Lewati ke isi utama

Untuk donatur

Sedekah jariyah lewat tagihan listrik masjid

·Tim Listrik Masjid

Kenapa tagihan bulanan berbeda dari sumbangan sekali jalan, dan bagaimana memastikan bantuan Anda benar-benar sampai ke tagihan yang benar.

Ketika orang membicarakan sedekah untuk masjid, yang terbayang biasanya karpet, pengeras suara, atau pembangunan. Biaya listrik jarang masuk percakapan, padahal lampu, pompa air, dan pengeras suara hanya dapat digunakan selama listriknya menyala.

Kami tidak memberikan penetapan hukum fikih. Untuk pertanyaan tersebut, silakan bertanya kepada ustaz atau lembaga keagamaan yang Anda percayai. Di sini kami membahas hal yang dapat kami pertanggungjawabkan, yaitu kebutuhan listrik dan cara memeriksa pembayarannya.

Kenapa listrik jarang jadi sasaran sedekah

Menggalang dana untuk kubah, karpet, atau pengeras suara baru relatif mudah: hasilnya terlihat, bisa difoto, dan bisa disebut namanya. Tagihan listrik bulan lalu tidak punya satu pun dari itu.

Akibatnya masjid kecil sering berada dalam keadaan ganjil; bangunannya bagus hasil swadaya jamaah, tapi kas rutinnya kering, dan pengeluaran terbesarnya justru yang paling tidak menarik dikampanyekan. Listrik biasanya pengeluaran rutin terbesar setelah honor imam dan muazin.

Bedanya dengan sumbangan sekali jalan

Sumbangan tunai menyelesaikan satu keadaan lalu habis. Tagihan listrik datang lagi bulan depan, dan bulan berikutnya lagi. Itu bukan kelemahan; justru itu yang membuatnya cocok dengan gagasan amal yang manfaatnya berjalan terus: selama bangunannya dipakai, listriknya dipakai.

Ada beda praktis yang lain. Bantuan yang langsung menjadi tagihan lunas tidak menyisakan dana mengendap di kas masjid yang harus dipertanggungjawabkan belakangan. Tidak ada tahap "uang sudah masuk, tinggal dibelanjakan"; tahap yang paling sering jadi sumber salah paham antara pengurus dan jamaah.

Berapa sebenarnya yang dibutuhkan

Dari lebih dari empat ratus tagihan listrik masjid dan musala yang kami periksa langsung ke sistem PLN, titik tengahnya ada di kisaran seratus lima puluh ribu rupiah sebulan. Sebagian besar bisa dituntaskan sepenuhnya oleh satu orang donatur, sekali bayar.

Angka itu mungkin mengejutkan dalam dua arah sekaligus: lebih besar daripada dugaan orang yang belum pernah mengurus masjid, dan jauh lebih terjangkau daripada dugaan orang yang ingin membantu tapi merasa tidak sanggup. Rata-rata, sebaran, dan perbandingan masjid dengan musala kami terbitkan terbuka di halaman data tagihan listrik masjid.

Cara memastikan bantuan Anda sampai

Pertanyaan yang seharusnya diajukan ke platform mana pun, termasuk kepada kami, adalah: mana buktinya, dan siapa yang menerbitkannya? Ada perbedaan mendasar antara laporan yang diketik ulang oleh penerima dana dan bukti yang terbit dari sistem pihak ketiga.

Yang kami pakai adalah yang kedua. Nominal yang tampil bukan angka yang diketik pengurus masjid maupun kami, melainkan hasil pemeriksaan ke sistem PLN memakai nomor pelanggan masjid tersebut. Setiap pembayaran yang berhasil menghasilkan struk bernomor dari sistem pembayaran PLN, dengan halaman permanen yang bisa dibuka siapa saja.

Kata "siapa saja" itu penting dan bukan kebetulan. Struknya tertaut di halaman masjid yang bersangkutan, sehingga jamaah masjid itu sendiri bisa ikut memeriksa, bukan cuma donatur yang membayar. Pengawasan yang paling berarti datang dari orang yang setiap hari salat di sana.

Kalau ingin memulai

Buka daftar tagihan listrik masjid untuk melihat seluruhnya sekaligus, atau jelajahi masjid yang membutuhkan bila ingin memilih satu per satu. Ada juga panduan cara memilih masjid yang membutuhkan bantuan listrik kalau bingung memulai dari mana.