Edukasi
Cara menghemat listrik di masjid tanpa mengganggu ibadah
Langkah yang benar-benar menurunkan tagihan masjid, diurutkan menurut dampaknya, dan penjelasan kapan berhemat bukan jawaban yang tepat.
Berhemat listrik di masjid bukan soal membuat jamaah kegerahan atau berjalan dalam gelap. Tujuannya menghindari perangkat menyala saat tidak diperlukan, dan memastikan yang menyala bekerja sebagaimana mestinya.
Yang membuat kebanyakan usaha penghematan gagal adalah urutannya: pengurus memulai dari lampu, karena lampu yang paling terlihat. Padahal lampu biasanya penyumbang terkecil.
Urutan yang benar
- Pendingin ruangan, kalau ada. Ini hampir selalu penyumbang terbesar. Naikkan setelan suhu beberapa derajat, nyalakan hanya di ruang yang terpakai, dan bersihkan filternya berkala karena filter kotor membuat perangkat bekerja lebih keras untuk hasil yang sama.
- Pompa air dan kebocoran. Satu keran menetes atau pelampung tangki yang rusak membuat pompa menyala jauh lebih sering. Ini perbaikan paling murah dengan dampak paling sering diremehkan, dan sekaligus menghemat air.
- Perangkat yang menyala terus. Penguat suara umumnya dibiarkan menyala sepanjang hari padahal terpakai beberapa menit. Mematikannya di luar waktu salat dan kajian aman selama ada yang bertanggung jawab menyalakannya kembali sebelum azan.
- Lampu, terakhir. Ganti ke lampu hemat energi bila belum, lalu pisahkan sakelarnya per area.
Pisahkan sakelar per area
Ruang utama, teras, halaman, toilet, dan tempat wudu sebaiknya bisa dikendalikan terpisah. Tanpa itu, kajian yang cuma memakai satu sudut ruangan memaksa seluruh bangunan menyala.
Satu pengecualian yang perlu dipegang: penerangan tempat wudu dan tangga jangan pernah masuk daftar yang dimatikan. Di situlah jamaah lanjut usia paling mudah tergelincir, dan penghematannya tidak sepadan dengan risikonya.
Catat, jangan cuma merasa
Tulis nominal tagihan atau pembelian token setiap bulan di satu buku. Tanpa catatan, tidak ada cara mengetahui apakah usaha penghematan berhasil, dan tidak ada cara mengetahui ada yang tidak beres.
Lonjakan mendadak tanpa perubahan kegiatan hampir selalu punya sebab yang bisa ditemukan: pompa menyala terus karena kebocoran, perangkat yang rusak dan menarik daya berlebih, atau sambungan yang dipakai pihak lain tanpa sepengetahuan pengurus.
Kapan berhemat BUKAN jawabannya
Namun, tidak semua tagihan yang terasa berat menandakan pemborosan. Dari lebih dari empat ratus tagihan masjid dan musala yang kami periksa langsung ke sistem PLN, sebarannya cukup rapat. Sebagian besar masjid membayar pada kisaran yang mirip.
Artinya kalau tagihan masjid Anda ada di sekitar titik tengah itu, masjid Anda tidak sedang boros. Ia sedang membayar sebagaimana masjid pada umumnya membayar, dan masalahnya bukan pada pemakaian melainkan pada pemasukan. Menekan pemakaian lebih jauh dari titik itu berarti mengurangi kenyamanan jamaah demi penghematan yang kecil.
Cara memeriksanya: bandingkan tagihan masjid Anda dengan sebaran di halaman data tagihan listrik masjid. Kalau jauh di atas, ada yang perlu diperiksa. Kalau di sekitar tengah, berhemat bukan lagi jalan yang paling menolong.
Dua hal yang menurunkan tagihan secara permanen
Berbeda dari kebiasaan berhemat yang harus dijaga terus, dua hal ini dikerjakan sekali dan berlaku seterusnya:
- Memastikan golongan tarifnya sosial, bukan rumah tangga. Sebagian masjid membayar mahal karena meterannya masih atas nama pribadi. Lihat cara mengubahnya.
- Menyesuaikan daya terpasang bila daya yang dipakai jauh di bawah yang terpasang, karena sebagian komponen tagihan mengikuti daya, bukan pemakaian.
Kalau tagihannya tetap berat setelah semua ini, itu bukan kegagalan pengurus. Ajukan bantuan. Pengajuan ini gratis, dan tanpa potongan apa pun.